Senin, 02 Nov 2026
  • Selamat Datang di Website Resmi SMP Negeri Mirqan. Website masih dalam tahap Pengembangan

SMP Negeri Mirqan Mulai Proyek Hidroponik Sederhana Berbasis STEM

LUWUK SELATAN — Tidak semua sekolah memiliki halaman luas yang bisa disulap menjadi kebun. Ada sekolah yang lahannya terbatas, bahkan sebagian besar halamannya didominasi beton. Namun, keterbatasan itu tidak selalu harus menjadi alasan untuk berhenti berkreasi.

Di SMP Negeri Mirqan, kondisi tersebut justru diubah menjadi sebuah pengalaman belajar. Sekolah yang tengah membangun budaya pembelajaran berpusat pada murid ini mulai mengembangkan pembelajaran lintas mata pelajaran berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Sebagai langkah awal, guru bersama murid memilih sebuah proyek sederhana: membuat hidroponik dari bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar sekolah.

Hidroponik memberikan sebuah alternatif bahwa bercocok tanam tidak selalu membutuhkan lahan yang luas. Dengan wadah sederhana, air, nutrisi, dan teknik yang tepat, tanaman tetap dapat dibudidayakan. Bagi SMP Negeri Mirqan, di sinilah letak menariknya proyek tersebut.

Pembelajaran tidak berhenti pada penjelasan guru atau konsep yang tertulis di buku. Murid diajak berhadapan langsung dengan persoalan, kemudian mencari kemungkinan solusinya. Mereka mengamati. Mereka bertanya. Mereka mencoba merancang. Mereka mengukur. Mereka mencatat perubahan. Mereka menganalisis hasil pengamatan. Bahkan ketika hasilnya belum sesuai harapan, mereka belajar mengevaluasi dan memperbaiki rancangan.

Dengan cara seperti itu, sebuah botol plastik bekas tidak lagi sekadar menjadi barang yang terbuang. Ia berubah menjadi bagian dari sebuah proses pembelajaran. Sebuah tanaman yang tumbuh sedikit demi sedikit pun bukan hanya tanaman. Di dalamnya ada konsep sains, teknologi, rekayasa, dan matematika yang dapat dipelajari secara bersamaan.

Proyek ini juga dirancang dengan pendekatan yang sederhana dan realistis. Tidak ada instalasi hidroponik mahal. Tidak membutuhkan peralatan rumit. Guru dan murid memanfaatkan bahan yang mudah diperoleh, termasuk botol plastik bekas yang kemudian diubah menjadi wadah tumbuh tanaman.

Murid terlibat sejak awal. Setiap kelompok mengumpulkan botol plastik, menyiapkan wadah, melakukan penyemaian benih selama sekitar tiga hingga empat hari, kemudian memindahkan bibit ke dalam wadah hidroponik yang telah disiapkan. Setiap kelompok mendapatkan tanggung jawab untuk merawat dan mengamati tanaman mereka. Tugas tersebut tidak selesai dalam satu kali pertemuan. Ada proses yang harus diikuti dari hari ke hari, mulai dari penyemaian, pertumbuhan, perkembangan tanaman, hingga nantinya mencapai masa panen.

Murid mengamati kondisi tanaman, mencatat hasil pengamatan, kemudian menganalisisnya menggunakan tabel yang telah disiapkan. Dengan demikian, mereka tidak hanya belajar bagaimana membuat tanaman tumbuh. Mereka juga belajar bagaimana memperoleh data dari sesuatu yang mereka lihat sendiri.

Di sinilah konsep pembelajaran lintas mata pelajaran mulai terasa. Tanaman dapat menjadi laboratorium kecil tempat berbagai konsep pelajaran bertemu. Pertumbuhan tanaman dapat diamati melalui sains. Pemanfaatan botol bekas dan sistem hidroponik memperkenalkan teknologi sederhana. Perancangan wadah dan sistem aliran air menjadi ruang bagi engineering. Sementara pengukuran dan analisis data pertumbuhan tanaman membawa matematika ke dalam situasi yang nyata.

Bagi murid, pengalaman seperti ini tentu berbeda dengan sekadar mengerjakan soal di atas kertas. Mereka dapat melihat langsung apa yang sedang dipelajari, menyentuh objeknya, mengamati perubahannya, mencatat datanya, lalu mendiskusikan apa yang mereka temukan. Belajar pun menjadi lebih dekat dengan kehidupan mereka.

SMP Negeri Mirqan berharap proyek sederhana ini tidak berhenti pada keberhasilan membuat tanaman hidroponik tumbuh. Yang lebih penting adalah proses belajar yang terjadi di sepanjang perjalanan. Melalui proyek tersebut, murid diharapkan mampu memahami pertumbuhan tanaman dan kebutuhan dasarnya, memanfaatkan teknologi sederhana serta bahan bekas, merancang dan membuat sistem hidroponik, melakukan pengukuran serta analisis data pertumbuhan tanaman, sekaligus mengevaluasi dan memperbaiki rancangan berdasarkan hasil pengamatan dan bukti yang mereka peroleh.

Pendekatan inilah yang terus dibangun SMP Negeri Mirqan dalam mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada murid. Guru tidak semata-mata menjadi pemberi informasi, tetapi hadir sebagai fasilitator yang membuka ruang bagi murid untuk bertanya, mencoba, berdiskusi, melakukan kesalahan, menemukan solusi, dan belajar dari proses tersebut.

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR